Test Artikel 1

Tantangan Guru dalam Kurikulum Merdeka

oleh Siti Rojiatur Rochmah, S.Ag., M.Pd

Guru merupakan ujung tombak keberhasilan proses pembelajaran. Dan kurikulum merupakan Ruhnya. Sebaik apapun kurikulumnya kurang berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan jika guru tidak dapat mengimplementasikannya dalam pembelajaran. Inilah yang terjadi pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Baik dalam tataran konsep, tapi “buruk” dalam tataran praksis. Akibatnya mutu pendidikan Indonesia masih rendah.

Mutu pendidikan merupakan cermin dari proses pembelajarannya. Rendahnya skor PISA dan TIMSS merupakan hasil dari aktivitas peserta didik dalam pembelajaran yang belum membimbing peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher of Order Thinking Skill/HOTS). HOTS hanya dapat dicapai dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan analisis yang berpusat pada peserta didik.

Padahal pembelajaran siswa aktif sudah didengungkan sejak tahun 1984 dengan Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Begitu juga Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, dan Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka bukan hanya menuntut guru untuk menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, tetapi pembelajaran berdiferensiasi dan sesuai dengan tahap capaian pembelajaran peserta didik (Teaching at The Right Level/TaRL). Untuk pembelajaran tersebut, guru dituntut mampu melaksanakan asesmen diagnosis sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran

Keberhasilan kurikulum merdeka menuntut kinerja guru yang lebih profesional dibanding kurikulum sebelumnya. Guru bukan sekadar menyusun rencana pembelajaran, tapi harus menganalisis capaian pembelajaran yang ditetapkan pemerintah. Capaian pembelajaran merupakan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik pada setiap fase, bukan kelas. Capaian pembelajaran tidak disusun berdasarkan kelas, tetapi atas dasar fase. Contohnya capaian pembelajaran mata pelajaran IPAS untuk jenjang SD/MI disusun dalam fase B umumnya untuk kelas III, dan IV SD/MI /Program paket A.

Tugas guru menganalisis capaian pembelajaran dalam fase tersebut dan menyusunnya menjadi tujuan pembelajaran. Proses ini tidaklah mudah. Jika salah dalam menganalisis, guru juga salah dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Pada tahap ini guru harus memahami kompetensi dan lingkup materi. Pemahaman kompetensi merujuk pada taksonomi Bloom dan Anderson atau Marzano dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Setelah menentukan tujuan pembelajaran, guru menyusun tujuan pembelajaran menjadi alur tujuan pembelajaran (ATP). ATP inilah yang didistribusikan ke dalam beberapa kelas sesuai dengan fasenya. Dalam menyusun ATP guru harus mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas materi. Guru juga harus memastikan bahwa alur tujuan tidak bercabang dan dapat diselesaikan dalam satu fase.

Penyusunan modul ajar merupakan tugas guru berikutnya setelah menyusun ATP. Modul ajar membantu guru agar dapat melaksanakan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual. Modul ajar juga berguna untuk membantu guru dalam pembelajaran diversifikasi dan berbasis ketercapaian capaian pembelajaran. Oleh karena itu modul ajar dilengkapi dengan asesmen formatif awal, proses, dan asesmen sumatif.

Pembelajaran Proyek Perbedaan kurikulum merdeka dengan kurikulum sebelumnya yaitu adanya pembelajaran proyek sebagai kegiatan intrakurikuler. Proyek berkaitan dengan penguatan profil pelajar Pancasila. Sedangkan untuk Madrasah proyek juga bertujuan untuk menguatkan profil Pelajar Rahmatan lil aalamiin. Pembelajaran proyek dilatarbelakangi dengan kesadaran pentingnya peserta didik untuk mempelajari hal-hal di luar kelas untuk menguatkan pembelajaran.

Pembelajaran proyek ini juga didasari pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa peserta didik harus didekatkan pada kehidupan masyarakat agar mereka bukan hanya memiliki pengetahuan tentang masyarakat tetapi mengalaminya sendiri. Pengalaman belajar tentang kehidupan masyarakat bertujuan agar peserta menjadi pribadi yang tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Selain itu, pembelajaran proyek juga bertujuan untuk menciptakan sosok pembelajar sepanjang hayat. 

Guru Pembelajar – Belajar melalui platform – Belajar melalui komunitas – Berani mencoba dan berinovasi Menerapkan sesuatu yang baru memang sulit. Tetapi bagaimana guru dapat menjadi teladan pribadi pembelajar jika putus asa dalam memahami kurikulum merdeka.